Di Kuffah ada seorang
kuli yang sangat terkenal. Orang-orang sangat mempercayainya. Karena sifatnya
yang jujur dan terpercaya, maka para pedagang banyak menitipkan barangnya atau
uangnya kepadanya. Pada suatu ketika dalam
perjalanan, ia
bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki tersebut bertanya , “engkau mau
kemana ?” jawab kuli itu, “Saya mau ketempat fulan” Sahut laki-laki itu, “saya
pun akan kesana” saya dapat berjalan kaki bersama engkau, atau bagaimana jika
saya menumpang keledaimu dengan bayaran sedinar?” kuli itu pun
menyetujuinya.Ketika sampai disuatu persimpangan jalan, penumpang tadi berkata,
“Jalan manakah yang engkau lalui ?” jawab kuli itu, “Jalan besar yang
umum inilah !” sahut
penumpang tadi “ Jalan yang satunya ini lebih dekat dan mudah untuk makanan
binatang karena banyak sekali rerumputan di sana.” Tapi saya belum pernah
melewati jalan ini.” Kata penumpang saya sering melawatinya.” “Baiklah kalau begitu”
,kuli itu menjawab. Mereka pun melewati jalan tersebut. Beberapa lama kemudian,
mereka sampai disebuah hutan yang menakutkan yang didalamnya banyak berserakan
bangkai manusia. Tiba-tiba penumpang tadi melompat dari keledai dan langsung
mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dengan niat akan membunuh si kuli
tadi. “Jangan begitu,” teriak si kuli.” Ambillah keledai beserta
barang-barangnya,tetapi jangan bunuh saya,” Si penumpang tidak memperdulikan
tawaran tersebut, karena ia bersumpah akan membunuh kuli itu, kemudian ia akan mengambil keledai serta barang-barangnya.
Kuli itu merasa khawatir karena si penumpang itu sedikitpun tidak mau menurut.
Akhirnya kuli berkata,” Baiklah, izinkanlah saya shalat dua rakaat untuk yang
terakhir kalinya.” Sambil tertawa penumpang itu mengabulkan keinginan si kuli
dan berkata, “Silakan, cepatlah shalat! Mereka yang telah mati ini juga telah
meminta hal yang sama, tapi shalat mereka ternyata tidak menolong sedikit pun.”
Kuli itu segera shalat, tetapi setelah membaca Al-Fatihah, ternyata tidak satu surat
pun yang di ingatnya. Sedangkan orang zhalim itu menunggu sambil terus berteriak,” “Cepat
selesaikan shalatmu !” tanpa sengaja terbacaoleh lidah si Kuli ayat yang
berbunyi :
أَمَّن
يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ
الْأَرْضِ ۗ
أَإِلَـٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ
قَلِيلًا
مَّا تَذَكَّرُونَ
'Amman Yujību Al-Muđţarra 'Idhā Da`āhu Wa Yakshifu As-Sū'a Wa Yaj`alukum Khulafā'a Al-'Arđi 'A'ilahun Ma`a Allāhi Qalīlāan Mā Tadhakkarūna (An-
Naml :62)
Yang artinya : “atau siapakah yang memperkenankan
(doa) orang yang dalam
kesulitan
apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesulitan”
(An-
Naml :62)
Si
kuli membaca ayat ini sambil menangis.
Tiba-tiba
muncullah seorang penunggang kuda
Bertopi
gemerlap dari besi. Lalu ditikamnya
Si
halim tadi sehingga matilah dia. Dan di tempat
si
zhalim itu mati, keluarlah nyala api. Kuli itu segera
bersujud
syukur ke hadirat Allah swt.. Lalu ia lari
ke
penunggang kuda tadi dan bertanya, “Siapakah engkau
dan
bagaimanakah engkau datang ?” Jawabnya, “Saya adalah
hamba
dari ayat yang engkau baca tadi. Sekarang engkau
aman
dan dapat pergi kemanapun sesukamu. “Setelah berkata
demikian,
orang tersebut menghilang. “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar